Batam – Catatanbatam.com – Di balik gedung Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam yang kini berdiri lebih terbuka dan bersahabat, tersimpan kisah perubahan yang tak kasat mata namun terasa kuat: reformasi budaya hukum yang digerakkan oleh Kasna Dedi, Kepala Kejari Batam, selama 1 tahun 8 bulan masa kepemimpinannya.
Datang pada Oktober 2023, Kasna tak hanya membawa jabatan, tetapi juga visi: mengubah wajah kejaksaan dari institusi yang menakutkan menjadi lembaga yang melayani dan mengayomi. Kini, menjelang perpindahannya, warisan itu telah menjelma dalam sistem, infrastruktur, serta kepercayaan publik yang membaik.
“Keadilan tak cukup ditegakkan. Ia harus bisa dirasakan,” ujar Kasna dalam wawancara perpisahan, Rabu (16/7/2025).
Dari Gedung Hingga Gagasan
Salah satu simbol nyata dari perubahan itu adalah pembangunan Gedung Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), yang segera rampung. Namun bagi Kasna, itu lebih dari sekadar beton dan kaca. Ia menyebutnya sebagai cerminan dari semangat transparansi dan pelayanan publik yang modern.
Gedung ini dirancang untuk mempercepat layanan hukum, meminimalkan kontak fisik, serta membuka akses informasi seluas-luasnya bagi masyarakat.
“Kejaksaan harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar alat penindakan,” tegasnya.
Menjembatani Jarak Masyarakat dan Hukum
Saat mengawali tugasnya di Batam, Kasna menghadapi tantangan besar: jarak emosional antara kejaksaan dan rakyat. Ia merespons dengan pendekatan humanis—menggelar edukasi hukum ke perkampungan, membantu pengurusan akta anak-anak marginal, bahkan mendampingi komunitas adat.
Hasilnya mulai tampak. Kejari Batam menjadi lebih dekat, lebih terbuka. Bukan sekadar institusi, tetapi mitra masyarakat dalam mencari keadilan.
Mencegah Lebih Baik daripada Mengadili
Dalam sektor pengamanan proyek pembangunan, Kejari Batam di bawah Kasna dikenal aktif mengawal program-proyek bernilai ratusan miliar, seperti revitalisasi Masjid Agung, SPAM Batu Putih, hingga pelebaran jalan utama. Pendekatan mereka menekankan pencegahan potensi korupsi sejak awal, bukan hanya penindakan di akhir.
“Tugas kami melindungi uang negara sebelum dirugikan,” ujar Kasna.
Penegakan Hukum yang Memulihkan Kepercayaan
Di ranah pidana khusus, Kejari Batam berhasil menyelamatkan total Rp16,5 miliar keuangan negara. Sejumlah buronan penting juga berhasil ditangkap, termasuk dalam program nasional “Tabur”.
Namun Kasna menekankan, penegakan hukum bukan sekadar soal berapa banyak yang dihukum, melainkan bagaimana publik kembali percaya bahwa hukum berpihak pada yang benar.
13 Penghargaan dan Inovasi SAKURA
Selama masa jabatannya, Kejari Batam mencatat 13 penghargaan dari level lokal hingga nasional. Inovasi “SAKURA BATAM” yang menjadi pusat pelayanan hukum untuk orang asing bahkan meraih penghargaan di Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Nasional 2023.
Tak hanya instansi pemerintah, apresiasi juga datang dari BPJS Kesehatan, Pemko Batam, hingga Jaksa Agung RI.
Dari Jaksa Menjadi Arsitek Perubahan
Dalam pernyataan terakhirnya, Kasna menyebut pengalaman di Batam sebagai salah satu fase paling bermakna dalam kariernya. Ia menekankan bahwa perubahan bukan miliknya pribadi, tapi hasil kerja kolektif semua elemen di Kejari Batam.
“Saya datang sebagai jaksa, tapi Batam membentuk saya menjadi pemimpin yang percaya bahwa hukum bisa menyembuhkan, bukan hanya menghukum.” Ucapnya.
Komentar